Sambut Hari Jadi ke-18, Pemdes Tapandullu Pacu Ketahanan Pangan Rumah Tangga
MAMUJU, Analysis.id – Pemerintah Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, mulai mematangkan persiapan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi Desa Tapandullu yang ke-18 untuk tahun 2026. Persiapan ini dibahas dalam rapat pleno yang melibatkan berbagai elemen masyarakat serta mahasiswa kuliah kerja nyata.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Balai Desa Tapandullu, Dusun Babalalang tersebut, turut dihadiri oleh mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM), KKN-Tematik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), serta jajaran tokoh-tokoh setempat.
Kepala Desa Tapandullu, Rahmat, menyampaikan apresiasinya atas pembentukan struktur kepanitiaan serta rancangan program taktis yang dicanangkan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) desa.
Menurut Rahmat, koordinasi awal ini sangat penting demi memastikan seluruh rangkaian acara berjalan secara terukur.
“Malam ini kami melakukan pertemuan lintas sektoral untuk memastikan pembentukan panitia serta mematangkan konsep perlombaan yang diinisiasi oleh Ketua PKK Desa,” ujar Rahmat saat ditemui pascarapat di Balai Desa Tapandullu, Senin (06/07/2026).
Ketua TP-PKK Desa Tapandullu, Selvi Azis, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan diintegrasikan dengan program penguatan ekonomi domestik. PKK meluncurkan tiga program unggulan yang wajib diikuti oleh seluruh dusun dan warga desa.
Program pertama adalah Lomba Pemanfaatan Lahan Pekarangan. Dalam program ini, setiap rumah tangga diwajibkan mengoptimalkan lahan kosong di sekitar hunian mereka untuk ditanami sayur-mayur serta komoditas pangan lokal non-beras, seperti umbi-umbian, pisang, jagung, dan kacang-kacangan, sebagai bentuk penguatan lumbung hidup.
Selain pemanfaatan pekarangan, PKK juga menggelar Lomba Keindahan Antardusun. Menariknya, setiap dusun diminta membangun satu ikon wilayah yang mencerminkan gotong royong warga, di mana konsep ikon tersebut dirahasiakan hingga hari penilaian demi menjaga iklim kompetisi yang sehat.
Acara ini diproyeksikan menjadi pesta rakyat yang mengangkat khazanah gastronomi khas Tapandullu. ia menambahkan, untuk merangsang partisipasi, pemerintah desa memberikan stimulan anggaran awal bagi kelompok ibu-ibu peserta lomba memasak, yang dikombinasikan dengan dana swadaya masyarakat.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa esensi dari lomba pemanfaatan pekarangan ini bermuara pada dua target utama: pemenuhan gizi keluarga untuk menekan angka stunting (tengkes) serta efisiensi belanja rumah tangga di tengah fluktuasi harga pangan pasar.
“Kita tidak boleh meremehkan pengeluaran kecil. Membeli cabai Rp5.000 per hari terdengar murah, namun jika diakumulasikan selama sebulan, nilainya mencapai Rp150.000. Anggaran sebesar itu sudah setara dengan harga satu karung beras ukuran 10 kilogram,” katanya.
Kendati demikian, implementasi program menanam di pekarangan ini sempat menghadapi tantangan klasik di pedesaan, yakni banyaknya hewan ternak yang dibiarkan lepas liar oleh pemiliknya dan merusak tanaman warga.
Menanggapi hal tersebut, TP-PKK berkolaborasi dengan pemerintah desa dan pemangku kepentingan setempat untuk menegakkan aturan penertiban.
Langkah yang diambil meliputi operasi atau razia hewan ternak secara berkala pada malam hingga dini hari, guna memastikan seluruh kambing milik warga dikandangkan.
Selain penegakan hukum, pemerintah juga memasang poster edukasi di berbagai sudut strategis desa untuk membangun kesadaran kolektif warga akan pentingnya ketertiban lingkungan.

Tinggalkan Balasan