Mengejar Mandat Prabowo, Ikhtiar KDKMP Tapandullu Membalik Arus Ekonomi Desa-Kota Mamuju
ANALYSIS.ID, Mamuju – Pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tapandullu, sedang menyusun narasi besar tentang kemandirian ekonomi bersama warga setempat. Selasa (14/04/2025).
Pengurus Koperasi Desa (KDKMP) Merah Putih menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) perdana sebuah seremoni yang nampak tidak seperti biasa bagi desa tersebut, namun pertemuan ini tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam perputaran uang di daerahnya sendiri.
RAT, bukan sekadar urusan administratif tahunan. Bagi para pengurusnya, forum tertinggi ini adalah manifestasi dari “ekonomi kerakyatan”, sebuah terminologi yang kembali naik daun dan menjadi prioritas utama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui ini, desa Tapandullu ingin membuktikan bahwa desa bisa menjadi motor, bukan sekadar ekor dari pembangunan nasional.
Kepala Bidang Koperasi dan UKM Kabupaten Mamuju, Ririn Trijulianti, menyebut kehadiran koperasi ini sebagai mandat teknis yang sakral.
Ia menegaskan pentingnya keterlibatan aktif warga agar manfaat ekonomi tidak menguap ke luar desa.
“Ini adalah wadah inklusif. Kami ingin masyarakat menjadi pemilik yang merasakan langsung manfaat dan keuntungan melalui SHU (Sisa Hasil Usaha),” ujar Ririn.
Langkah strategis ini mendapat sandaran kuat dari Balai Desa. Kepala Desa Tapandullu, Rahmat, memandang koperasi sebagai jembatan untuk mengawinkan program strategis nasional dengan realitas di lapangan.
Baginya, sinergi adalah harga mati agar pembangunan tidak berjalan terseok-seok secara parsial.
“Kami melihat Koperasi Merah Putih sebagai mitra strategis. Sebagai pemerintah desa, kami bertanggung jawab memastikan kepercayaan masyarakat terbangun,” kata Rahmat.
Menurutnya, koperasi adalah instrumen paling masuk akal untuk meningkatkan taraf hidup warga saat ini.

Senada dengan itu, Pendamping Bisnis Assistant Kabupaten Mamuju, Rahmat, melihat ada ambisi besar untuk mengubah arah angin ekonomi. Jika selama ini modal selalu mengalir deras dari desa ke kota, kini Tapandullu ingin mencoba membaliknya.
“Kita sedang membangun kemandirian ekonomi dari desa ke kota, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa modal sosial berupa antusiasme warga harus tetap dipandu oleh pendampingan yang konsisten dan perangkat desa yang solid sebagai “kompas”.
Meski ambisi membubung, jalan di depan tidaklah sepenuhnya mulus. Ketua Koperasi Merah Putih, Selvi Azis, mengakui bahwa saat ini mereka masih berada dalam fase “babat alas”. Fondasi koperasi masih terus diperkuat di tengah keterbatasan fasilitas. Administrasi masih dikelola secara manual dan kantor fisik pun masih dalam tahap penyelesaian.
Namun, Selvi menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia berencana menyuntikkan profesionalisme ke dalam tubuh koperasi dengan melibatkan tenaga profesional melalui jalur P3K Paruh Waktu untuk memperkuat sisi manajerial.
Di penghujung rapat, Selvi menyelipkan pesan mendalam bagi koleganya. Ia mengingatkan bahwa musuh terbesar organisasi kolektif adalah sikap pasif.
“Keberhasilan koperasi bukan bertumpu pada satu individu. Saya sangat berharap rekan-rekan pengurus tetap kompak dan aktif sesuai tupoksinya. Jangan sampai hanya satu atau dua orang yang bergerak hingga kelelahan,” tuturnya.
Bagi Selvi dan warga Tapandullu, transparansi dan kerja tim adalah fondasi utama. Di tengah upaya mengejar mandat pusat, mereka sadar bahwa pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat Tapandullu hanya bisa diraih jika “rumah ekonomi” mereka dijaga bersama-sama dengan konsisten.

Tinggalkan Balasan