KKN-PPM UGM Rajut Potensi Kearifan Lokal Lewat Festival Budaya di Mamuju
ANALYSIS.ID, MAMUJU – Otoritas Desa Sumare dan Desa Tapandullu di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) resmi menyepakati pelaksanaan festival budaya kolaboratif yang diinisiasi mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM).
Proyeksi tempat tersebut, akan dilangsungkan di Pantai Wisata antara dua desa, festival ini dirancang bukan sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mengobsesi kunjungan wisatawan luar daerah sekaligus mempromosikan potensi kearifan lokal.
Dalam pertemuan ini, mereka sedang merancang sebuah selebrasi: festival budaya kolaboratif yang diharapkan mampu mengangkat marwah dan potensi lokal dua desa tetangga, Sumare dan Tapandulu.
Misi besar di tepi ujung kecamatan Simboro ini, dimotori oleh 28 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM).
Sejak 20 Juni lalu, mereka telah menjejakkan kaki di tanah Mamuju. Sebanyak 13 mahasiswa bermukim di Desa Sumare, sementara 15 lainnya di Desa Tapandulu.
Selama 50 hari hingga 8 Agustus mendatang, para akademisi muda ini melebur bersama warga, mencoba merajut kembali simpul-simpul kebudayaan di beranda pesisir Sulbar.
Bagi, Koordinator Mahasiswa Unit KKN-UGM, Fadilla Khairunisa proyek ini bukan sekadar pemenuhan beban SKS yang instan.
Langkah kaki mereka telah diawali dengan riset mendalam setengah tahun sebelum penerjunan untuk memastikan program yang dirancang memiliki dampak yang panjang.
“Harapannya, semua program bisa terlaksana, memberikan dampak nyata, dan yang paling penting, berkelanjutan untuk warga di kedua desa,” ujar Fadilla saat ditemui Analysis.id di Kantor Balai Desa Sumare. Sabtu (04/07/2026).
Pilihan untuk menyatukan kekuatan dua desa dalam sebuah festival budaya disambut hangat oleh pemerintah setempat.
Kepala Desa Sumare, Samar, tak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, kehadiran para mahasiswa telah mencairkan batas administratif demi tujuan kebudayaan yang lebih besar.
“Alhamdulillah, kegiatan anak-anak ini berkelanjutan. Sekarang digabung antara Sumare dengan Tapandulu. Hari ini kami sepakat memutuskan penempatan festival budayanya di kawasan Pantai” kata Samar.
Senada dengan Samar, Kepala Desa Tapandulu, Rahmat, melihat festival budaya ini sebagai pintu gerbang untuk memperkenalkan eloknya adat dan identitas pesisir Mamuju ke dunia luar.
Lewat kerja sama ini, kawasan pantai dipilih sebagai panggung kreasi agar ekspresi budaya lokal dapat disaksikan secara luas.
“Kita adakan di sana supaya bisa diakses dan dikunjungi orang-orang dari luar,” tuturnya.
Selanjutnya, di balik kemasan festival budaya, ada kegelisahan sosial dan ekologis yang berkelindan.
Festival budaya sengaja dipilih para mahasiswa sebagai pintu masuk untuk menyentuh akar masalah yang lebih pekat di masyarakat: tingginya angka putus sekolah dan fenomena pernikahan dini.
Melalui ruang seni dan budaya ini, mahasiswa ingin memantik kembali kesadaran akan pentingnya pendidikan formal.
Sebuah ikhtiar yang selaras dengan janji Rektor UGM yang sempat berkunjung sebelumnya untuk membuka peluang beasiswa bagi anak-anak Sulawesi Barat yang ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.
Di sisi lain, Samar juga menitipkan pesan sunyi dari alam. Wilayah pesisir mereka sejatinya adalah rumah bagi Burung Maleo, satwa endemik Sulawesi yang kini kian terhimpit.
“Dulu sering muncul, tapi sekarang agak kurang karena tempatnya sudah ramai,” ungkap Samar.
Sementara Rahmat berharap, riuh rendah pengabdian ini tidak menguap begitu saja saat masa KKN berakhir pada Agustus nanti.
Ia memimpikan Sumare dan Tapandulu kelak dikukuhkan sebagai “Desa Binaan” resmi UGM agar program yang di rancang ini terus bergulir di tahun-tahun mendatang.
“Semoga ke depan, setelah rombongan ini ditarik, akan ada lagi mahasiswa UGM periode selanjutnya yang kembali ke sini,” harap Rahmat.
Lebih jauh, Fadilla dan kawan-kawannya, festival budaya yang sedang mereka rajut adalah peletakan batu pertama dari sebuah jembatan panjang pengabdian yang tak boleh putus.

Tinggalkan Balasan