Teken Mou, KPID Sulbar Gandeng Ormas Perempuan Sebagai Duta Penyiaran

ANALYSIS.ID, Mamuju — Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Barat (Sulbar) merangkul lima organisasi massa (Ormas) perempuan untuk bersinergi mengawal siaran sehat. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Mamuju, di gedung serbaguna Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju. Selasa (07/10/2025).

Ketua KPID Sulbar, Mu’min, membuka sambutannya dengan apresiasi tinggi. Ia menyebut ini adalah kali pertama lima ormas perempuan yang terdiri dari BKMT Sulbar, WKRI DPC Santa Maria Mamuju, PW Muslimat NU Sulbar, PW Aisyiah Sulbar, dan PW Nasyiatul Aisyiyah Sulbar dirangkul dalam satu forum. “Sinergitas ini penting,” ujar Mu’min.

Dalam kegiatan bertajuk Literasi Siaran Ramah Perempuan itu, Mu’min menekankan pentingnya peran perempuan sebagai benteng informasi. “Generasi sekarang ini perlu pendidikan yang baik, dan salah satu guru terbaik bagi anak-anak adalah ibunya,” katanya. “Perempuan tangguh adalah sekolah pertama bagi putra putri kita.”

Mu’min berharap, dengan bermitra bersama Ormas perempuan, para ibu dan kakak perempuan dapat menjadi  duta penyiaran yang mampu memilah dan memilih konten siaran yang mendidik dan mencerdaskan. “Melalui kegiatan ini kami berharap peran perempuan mengajak dan mengarahkan anak-anaknya kembali menonton siaran TV dan radio, sebab siarannya dipastikan tidak memuat berita atau informasi bohong,” paparnya.

Wakil Ketua KPID Sulbar, Ahmad Syafri Rasyid, menambahkan bahwa kemitraan ini bertujuan agar Ormas perempuan menjadi mitra kolaboratifdalam pengawasan siaran. Ia mengakui, meski siaran resmi bebas dari hoaks, potensi pelanggaran etika dan kesusilaan tetap ada. “Bila ditemukan adanya siaran yang tidak sesuai norma penyiaran, masyarakat harus melaporkan kepada KPID untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.

Sorotan utama pengawasan datang dari Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran, Nur Ali. Ia menyebut sinetron sebagai tayangan yang paling rentan terjadi pelanggaran. “Sinetron berorientasi pada rating, dan untuk mendapat rating tinggi maka terkadang dibumbui dengan adegan, penampilan atau lisan yang tidak layak dikonsumsi telinga dan mata kita,” kata Nur Ali.

Untuk mencegahnya, Nur Ali mengingatkan Lembaga Penyiaran agar memperkuat sensor internal demi melindungi khalayak, terutama anak-anak dan perempuan, dari tayangan yang mengandung kekerasan, pornografi, atau ujaran kebencian. “Bila sensor internal lemah, konten bermasalah bisa menyebabkan teguran, penghentian program, atau denda administratif seperti yang tertuang dalam P3SPS,” ancamnya.

Koordinator Bidang PKSP, Firman Getaran, menjelaskan alasan pelibatan perempuan. Menurutnya, kelembutan perempuan dalam mendidik akan mampu menanamkan teladan kepada anak-anak untuk tidak mudah percaya informasi tak jelas dan membiasakan menonton TV bersama. “Informasi yang layak dipercaya itu ialah yang disiarkan oleh TV dan radio karena sudah terverifikasi sebelum ditayangkan,” tuturnya.

Komisioner Kelembagaan, Naluria Islami, atau akrab disapa Uri, meyakinkan bahwa TV dan radio tidak akan pernah tertinggal zaman, bahkan di tengah gempuran media sosial. “Sampai kapanpun TV dan radio akan terus eksis sebab informasinya benar-benar asli dan bukan sampah,” ujarnya.

Selanjutnya, Koorbid Kelembagaan KPID Sulbar, Hadrah menjelaskan KPID selama ini telah banyak melakukan sosialisasi penyiaran dengan sejumlah SMA dan perguruan tinggi melalui Goes to School dan Goes to Campus, dan hari ini KPID kembali bersinergi dengan lima Ormas perempuan untuk menjadi mitra dalam lingkup pengawasan dan pengembangan penyiaran di Sulbar. Beberapa kampus pun telah mengirimkan mahasiswanya magang di KPID untuk menimba pengetahuan menambah wawasan dan referensi terkait penyiaran selama periodenya.

“di Bulan Ramadhan lalu sudah ada satu Ormas perempuan yang telah melakukan MoU dengan KPID yaitu PW Fatayat NU jadi sudah ada enam Ormas perempuan yang berkolaborasi dan bersinegi terkait penyiaran sehat untuk perempuam dan anak, beberapa kampus juga telah mengirimkan mahasiswanya magang di KPID untuk menimba pengetahuan menambah wawasan dan referensi dibidang penyiaran selama periodenya,” jelasnya.

ia berharap, “semoga ada bentuk kerjasama Ormas perempuan dengan KPID kedepan, kita akan diskusi hal apa saja yg perlu dilakukan bersama utk memperkuat pengawasan penyiaran di Sulbar,”harapnya.

Menyambut usulan tindak lanjut dari Wakil Ketua BKMT Sulbar, Jamilah, dan perwakilan Wanita Katolik RI DPC Mamuju, Federica, Ketua KPID Mu’min memastikan akan ada pembekalan khusus. “Yang penting impact-nya besar, jadi kita memang butuh diskusi lebih lanjut membahas dan memperkenalkan kitab sucinya KPID yang bernama P3SPS,” pungkasnya.

Kerja sama ini menambah daftar ormas perempuan yang bermitra dengan KPID Sulbar, setelah sebelumnya PW Fatayat NU telah melakukan MoU. Total, kini sudah enam Ormas perempuan yang berkolaborasi dalam mewujudkan penyiaran sehat untuk perempuan dan anak di Sulbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup