Melompat 5,83 Persen, Ekonomi Sulbar Lampaui Rata-Rata Nasional
ANALYSIS.ID, Mamuju — Perekonomian Sulawesi Barat menunjukkan taji sepanjang Triwulan II 2025. Di tengah dinamika global, bumi “Malaqbiq” mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,83% secara tahunan (year-on-year / yoy). Jumat (25/09/2026).
Angka ini melesat dibanding triwulan sebelumnya yang berada di level 4,29% (yoy), sekaligus sukses melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang bertengger di angka 5,04% (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Barat mencatat, akselerasi gemilang ini dikail dari moncernya ekspor minyak sawit mentah (CPO) beserta produk turunannya. Konsumsi rumah tangga yang tetap kokoh serta suntikan investasi dari sektor swasta dan pemerintah turut menjadi bahan bakar utama.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi “urat nadi” utama penopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulbar dengan kontribusi jumbo sebesar 47,80%. Sektor ini disusul oleh industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta administrasi pemerintahan.
Sementara dari kacamata pengeluaran, porsi terbesar disumbang oleh ekspor yang mencapai 48,14%, diikuti ketat oleh Konsumsi Rumah Tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, hingga lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT).
Prospek Optimis hingga 2026 dan Inflasi Terkendali
Berkat struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor ril padat karya dan daya beli domestik yang kuat, tren positif ini diproyeksikan terus berlanjut hingga penghujung 2025. Memasuki tahun 2026, prospek makroekonomi Sulbar diprediksi tetap stabil.
Produktivitas pertanian yang solid, geliat sektor konstruksi, serta optimalisasi komoditas unggulan seperti kakao dan kopi bakal menjadi perisai pertumbuhan.
Dari lini harga, stabilitas di Sulbar tergolong aman. Inflasi Oktober 2025 tercatat sebesar 2,64% (yoy) dengan deflasi bulanan di angka -0,18% (month-to-month / mtm). Capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen.
Deflasi bulanan didorong oleh melimpahnya pasokan beras SPHP dari Bulog, gelontoran komoditas hortikultura dari Palu dan Enrekang, serta hasil tangkapan ikan yang melimpah akibat musim panen laut. Meski demikian, tekanan tipis sempat dirasakan akibat kenaikan harga emas perhiasan, cabai merah, hingga daging ayam ras yang terdongkrak implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perbankan Tangguh dan Digitalisasi Ngebut
Di sektor keuangan, fungsi intermediasi perbankan Sulbar tetap terjaga sehat. Penyaluran kredit tumbuh 6,65% (yoy) pada Triwulan II 2025, sementara Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meroket 10,22% (yoy). Sektor pertanian dan perdagangan mendominasi alokasi kredit produktif daerah.
Di sisi lain, kolaborasi strategis terus digencarkan. Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan TP2DD, KPwBI Sulbar bersama Pemda konsisten menerapkan strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, Komunikasi efektif), termasuk mengandalkan inovasi pasar murah “PAK RAHMAN” (Pangan Pokok Murah dan Aman).
Akselerasi digitalisasi juga menunjukkan tajinya. Hingga Triwulan III 2025, tercatat sebanyak 98.289 merchant QRIS telah beroperasi di Sulbar—didominasi oleh pelaku usaha mikro—yang diperkuat lewat strategi event-based seperti Pekan QRIS Nasional dan QRIS Jelajah Budaya Indonesia 2025.
Selanjutnya untuk informasi, Capaian dan arah kebijakan makroekonomi ini dalam ajang Sipakada Media yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Barat, di Atrium Mall Matos Mamuju.
Kegiatan yang mempertemukan para pemangku kepentingan dan insan pers tersebut menghadirkan Analis Bank Indonesia Ahmad Fikri, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar, Rifky Adhitya, serta Plt Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar Sofian Rendy Ardiansyah. (*)

Tinggalkan Balasan