Catatan dari Pesisir Tapandullu: Berpisah dalam Kenangan
ANALYSIS.ID, Mamuju – Deru angin malam di Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, terasa lebih emosional dari biasanya.
Di bawah langit Sulawesi Barat, sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) Angkatan XXVI berkumpul untuk menandai berakhirnya masa pengabdian mereka.
Tajuk yang diusung pun cukup puitis: “Berpisah dalam Waktu, Bersatu dalam Kenangan.”
Bagi para mahasiswa, 40 hari menetap di desa pesisir ini bukan sekadar menjalankan program kerja formal.
Ada ikatan emosional yang terbangun di sela-sela deburan ombak. Hairul, sang Koordinator Desa, tampak sulit menyembunyikan rasa harunya saat memberikan sambutan.
“Kami merasa sangat senang bisa mengenal masyarakat di sini. Warga Tapandullu sangat menghargai tamu,” ujar Hairul. Kamis (22/01/2026) malam.
Hairul yang juga mahasiswa Jurusan Manajemen ini, berkisah bahwa memori yang paling melekat justru bukan saat berada di balai desa, melainkan saat melaut bersama pemuda dan warga setempat.
“Pengalaman paling berkesan itu saat bersama-sama mencari ikan di laut. Itu yang tidak akan kami lupakan,” katanya.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi ini, juga menitipkan pesan bagi generasi muda Tapandullu agar tetap menjaga kekompakan yang selama ini telah mereka saksikan sendiri selama bermukim di sana.
Permohonan Maaf dan Harapan Kepala Desa
Kepala Desa Tapandullu, Rahmat didampingi istri tercinta Selvi Azis, hadir langsung dalam malam ramah tamah tersebut bersama Ketua BPD, Haris, tokoh adat, agama, pemuda, dan toko perempuan serta tokoh masyarakat lainnya.
Dalam sambutannya yang rendah hati, Rahmat menyampaikan permohonan maaf jika selama 40 hari pelayanan pemerintah desa dirasa kurang maksimal.
“Selaku tuan rumah, jika ada kelakuan atau kata-kata yang menyinggung perasaan adik-adik mahasiswa, kami mohon maaf sebesar-besarnya,” ungkap Rahmat.
Ia mengakui kesibukannya di luar desa terkadang membuatnya tidak bisa mendampingi mahasiswa secara intensif.
Namun, di balik apresiasinya terhadap kemandirian mahasiswa yang mampu berbaur dengan warga, Rahmat menyelipkan kritik membangun untuk pihak kampus.
Ia menyayangkan absennya Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) selama masa KKN berlangsung.
“Ada masukan sedikit untuk kedepan. Jika ada mahasiswa KKN selanjutnya, mohon kiranya dosen pembimbing menyempatkan hadir di desa kami. Kami merasa kasihan melihat adik-adik yang sudah datang jauh-jauh memilih desa kami, tapi tidak didampingi dosennya,” tuturnya.
Meski tanpa pendampingan langsung dari dosen di lapangan, ia bersyukur karena mahasiswa Unsulbar tetap mampu menunjukkan dedikasi dan sikap yang santun, sehingga mereka diterima dengan tangan terbuka oleh seluruh lapisan masyarakat Tapandullu.
Malam itu pun ditutup dengan jabatan tangan dan pelukan hangat sebuah seremoni sederhana untuk sebuah perpisahan yang akan abadi dalam ingatan.

Tinggalkan Balasan