Perang yang Tak Akan Dimenangkan
Oleh: Muhammad Suryadi R (Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi)
Di masa depan, manusia mungkin akan menamai zaman ini bukan sebagai era kejayaan, melainkan era kelelahan global. Dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Teknologi melampaui imajinasi, informasi mengalir tanpa henti, dan batas geografis semakin kehilangan maknanya. Namun, di tengah seluruh kemajuan itu, satu hal tampak nyaris tidak berubah, yakni cara manusia menyelesaikan konflik. Perang tetap dipelihara sebagai bahasa kekuasaan, simbol legitimasi negara, dan jalan pintas menghadapi kebuntuan politik.
Paradoks inilah yang menandai peradaban kontemporer dimana manusia mampu menembus ruang angkasa, tetapi masih memilih kekerasan sebagai instrumen negosiasi. Perang tidak lagi menjanjikan kemenangan yang utuh, tetapi tetap dipertahankan seolah-olah ia masih memiliki makna historis yang sama seperti di masa lalu. Padahal, perang hari ini dan terlebih lagi perang masa depan lebih menyerupai proses tanpa kesimpulan, konflik yang terus berlangsung meski alasan awalnya telah kabur dan tujuan akhirnya tak lagi jelas.
Dalam dunia yang kian terhubung, tidak ada perang yang benar-benar skala lokal. Setiap konflik menjalar dimulai dari krisis energi, pangan, ekonomi, dan migrasi manusia. Gaza bukan hanya soal Palestina-Israel, Ukraina bukan semata Rusia-Barat, Iran bukan sekadar aktor regional, dan Venezuela bukan hanya krisis domestik. Semuanya adalah simpul dalam jaringan konflik global yang saling mempengaruhi. Dalam konteks ini, perang kehilangan makna kemenangannya. Ia tidak lagi melahirkan pemenang, hanya menciptakan penderitaan yang tersebar luas.
Runtuhnya Ilusi Unipolar
Berakhirnya Perang Dingin melahirkan optimisme besar. Francis Fukuyama dalam buku masterpiece-nya, The End of History, menyatakan bahwa umat manusia telah mencapai titik akhir evolusi ideologis dimana demokrasi liberal dan kapitalisme pasar dianggap sebagai bentuk final sistem politik umat manusia. Dalam pandangannya, perang fisik besar antarnegara akan semakin jarang sebab dunia telah menemukan tatanan yang paling rasional.
Selama beberapa dekade, tesis tersebut tampak menemukan pembenaran empirisnya. Globalisasi menguat, institusi internasional berkembang, dan konflik besar dianggap sebagai penyimpangan sementara. Dunia diproyeksikan bergerak menuju stabilitas liberal yang demikian meluas.
Kendati demikian, sejarah menolak berhenti. Justru di saat klaim akhir sejarah digaungkan, konflik baru bermunculan dengan wajah yang lebih kompleks. Perang di Ukraina memperlihatkan bahwa rivalitas geopolitik di masa lalu belum sepenuhnya padam. Konflik Gaza menunjukkan bahwa persoalan kolonial, identitas, dan ketimpangan masih hidup. Ketegangan Iran dengan Barat dan Israel menegaskan bahwa logika kekuasaan dan keamanan tetap mendominasi hubungan internasional. Venezuela menjadi contoh bagaimana krisis ekonomi, sanksi, dan politik global saling bertaut.
Ilusi unipolar runtuh bukan semata karena munculnya kekuatan baru, tetapi karena asumsi dasar yang keliru bahwa modernitas otomatis membawa harmoni. Fukuyama sendiri kemudian merevisi optimisme awalnya dengan mengakui bahwa demokrasi liberal menghadapi tantangan serius dari populisme, ketimpangan, dan krisis legitimasi. Dunia tidak berhenti berkonflik; ia hanya mengubah bentuk konflik itu.
Dunia Setelah Amerika: Difusi Kekuasaan Global
Di titik inilah pemikiran Fareed Zakaria menjadi relevan. Dalam The Post-American World, Zakaria tidak berbicara tentang runtuhnya Amerika Serikat, melainkan tentang bangkitnya aktor-aktor lain dalam tatanan internasional. Dunia pasca-Amerika bukan dunia tanpa Amerika, tetapi dunia di mana Amerika tidak lagi menjadi satu-satunya pusat gravitasi kekuasaan global.
Zakaria menyebut fenomena ini sebagai the rise of the rest, yakni kebangkitan China, India, Rusia, Iran, serta kekuatan regional di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi, melainkan terdifusi. Amerika tetap unggul secara militer dan teknologi, tetapi keunggulan itu tidak selalu berbanding lurus dengan legitimasi politik global atau kemampuan membentuk konsensus internasional.
Konsekuensinya kini, dunia memasuki fase tanpa hegemoni kekuatan tunggal yang mampu bertindak sebagai penjamin stabilitas. Ketika kekuasaan tersebar tetapi otoritas tidak terkonsolidasi, kekosongan kepemimpinan global justru melahirkan ketegangan baru. Negara-negara merasa lebih bebas menantang tatanan yang ada, tetapi juga lebih cemas terhadap niat pihak lain. Dalam lanskap ini, konflik menjadi lebih mungkin, bukan lebih jarang.
Multipolaritas dan Benturan Peradaban
Jika Zakaria menjelaskan struktur kekuasaan global yang terfragmentasi, Samuel Huntington menyorotinya dari dimensi kulturalnya. Dalam The Clash of Civilizations, Huntington berargumen bahwa konflik masa depan akan semakin didorong oleh perbedaan peradaban agama, budaya, dan identitas kolektif bukan semata ideologi atau ekonomi.
Tesis Huntington kerap dikritik karena sangat simplistik. Tetapi, realitas geopolitik mutakhir menunjukkan bahwa dimensi identitas tidak bisa diabaikan. Konflik Gaza bukan sekadar sengketa teritorial, melainkan benturan memori historis, agama, dan nasionalisme. Perang di Ukraina bukan hanya soal NATO dan Rusia, tetapi juga narasi peradaban dan klaim identitas Eurasia. Ketegangan Iran dengan Barat sarat perbedaan nilai, sistem politik, dan pandangan dunia.
Multipolaritas ala Zakaria, ketika bertemu dengan benturan peradaban ala Huntington, melahirkan tatanan global yang rapuh. Banyak pusat kekuatan dengan nilai dan kepentingan berbeda, tanpa otoritas bersama yang benar-benar diakui. Aliansi menjadi cair dan transaksional. Negara-negara dapat bekerja sama dalam satu isu dan berhadap-hadapan dalam isu lain. Diplomasi kehilangan dimensi etikanya dan berubah menjadi kalkulasi kepentingan jangka pendek.
Perang Dunia Baru: Tanpa Deklarasi dan Garis Depan
Dalam dunia tanpa hegemon dan tanpa konsensus peradaban, perang tidak lagi hadir dalam bentuk klasik. Perang dunia baru bergerak tanpa deklarasi, tanpa garis depan yang jelas, dan tanpa kesepakatan damai yang final. Perang hari ini bersifat hibrida.
Ukraina menunjukkan bagaimana konflik militer terbuka berjalan beriringan dengan sanksi ekonomi, perang informasi, dan tekanan diplomatik. Gaza memperlihatkan perang asimetris yang bercampur dengan krisis kemanusiaan dan perdebatan hukum internasional. Iran dan sekutunya terlibat dalam konflik proksi yang memperluas medan perang tanpa konfrontasi langsung. Venezuela menghadapi perang non-militer melalui sanksi, isolasi ekonomi, dan tekanan politik.
Dalam perang semacam ini, batas antara kombatan dan warga sipil semakin kabur. Seluruh populasi global menjadi bagian dari konflik sebagai korban langsung, konsumen propaganda, atau pihak yang menanggung dampak ekonomi. Harga energi melonjak, pasokan pangan terganggu, dan ketidakpastian menjadi kondisi normal. Perang tidak lagi memiliki logika penyelesaian karena ia tidak pernah diumumkan secara formal dan karenanya sulit diakhiri secara resmi.
Perang yang Tak Akan Dimenangkan
Di titik ini, pertanyaan fundamental harus diajukan, jika optimisme Fukuyama terbukti prematur, peringatan Huntington semakin terasa, dan dunia pasca-Amerika ala Zakaria kehilangan pusat kendali, perang apa yang sesungguhnya perlu dimenangkan?
Perang yang tak akan dimenangkan bukanlah perang antarnegara, melainkan perang melawan ilusi-ilusi bahwa kekerasan dapat menciptakan stabilitas, dominasi menjamin keamanan, dan bahwa satu peradaban berhak menentukan nasib yang lain. Kekuasaan hari ini terlalu besar untuk ditopang oleh imajinasi politik lama yang bersifat zero-sum.
Memenangkan perang sejati berarti mendefinisikan ulang makna kekuatan. Bukan lagi kemampuan menghancurkan, tetapi kemampuan menahan diri. Bukan dominasi dan ekspansionis seperti yang diperagakan Ameria Serikat, melainkan melalui keadilan struktural. Dunia pasca-Amerika membutuhkan institusi global yang tidak hanya kuat, tetapi juga sah dan memiliki supremasi kuat. Dunia multipolar membutuhkan dialog lintas peradaban yang tulus, bukan hegemoni nilai yang dibungkus moralitas.
Pada akhirnya, perang yang tak akan dimenangkan ini harus menjadi cermin bagi peradaban. Manusia telah mencapai tingkat kekuatan yang melampaui kebijaksanaannya. Jika dunia ingin bertahan, ia harus belajar bahwa kemenangan terbesar bukan ketika musuh dikalahkan, melainkan ketika perang tidak lagi dianggap sebagai pilihan yang sah. Jika tidak, sejarah akan mencatat zaman ini sebagai masa ketika manusia memiliki seluruh kapasitas untuk menciptakan perdamaian, namun memilih mempertahankan konflik sambil terus bertanya mengapa tidak ada perang yang benar-benar bisa dimenangkan.

Tinggalkan Balasan