Pelatihan Korps Pengkader (PKP) Angkatan I Gerbong Dekol Sukses Digelar

Dom. Istimewa

ANALYSIS.ID, Barru – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonenesia (PMII) yang tergabung dalam geng yang selanjutnya disebut Gerbong Dekol menyelenggarakan pelatihan kaderisasi yang berlangsung selama delapan hari, mulai 27 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 orang peserta dari berbagai cabang di Sulsel, diantaranya: Bone, Soppeng, Parepare, Maros, Makassar, dan Barru.

Pelatihan ini secara khusus mengangkat tema dekolonisasi sebagai upaya membangun kesadaran kritis kader terhadap warisan kolonial baik dalam kerangka berpikir, narasi pengetahuan, sejarah maupun metodologi. Peserta dibekali materi berupa artikel dan buku-buku genre dekolonisasi yang menekankan pentingnya membangun cara pandang alternatif yang berangkat dari konteks lokalitas, keislaman, dan keindonesiaan.

Sebagai pelatihan alternatif, fasilitator menyediakan sejumlah artikel bertema dekolonisasi yang wajib dibaca dan dipresentasikan oleh para peserta. Presentasi tersebut menjadi ruang diskusi kritis untuk melatih kemampuan analisis, penyampaian gagasan, serta keberanian berargumentasi di hadapan forum.

Muhammad Suryadi R yang akrab disapa Adi yang juga bertindak sebagai Kepala Sekolah dalam pelatihan ini menegaskan bahwa model pelatihan ini dirancang agar peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mampu mengolah dan mengkritisinya secara kolektif. “PKP kali ini berbeda dari PKP yang telah berlangsung sebelumnya.

Bahwa tema dekolonisasi dalam pelatihan ini menjadi insight baru sehingga nantinya akan menjadi rancang bangun terutama bagi peserta agar mereka belajar cara memahami pengetahuan dan metologi otentik dan indejenes ala Indonesia.

Sebab itu, dekolonisasi tidak hanya dipahami sebagai wacana, tetapi harus menjadi praktik berpikir dan bergerak dalam proses kaderisasi di PMII,” ungkapnya.

Melalui Pelatihan Korps Pengkader ini, PMII Gerbong Dekol berharap dapat mencetak kader-kader pendekar yang memiliki kesadaran kritis, kemampuan literasi yang kuat, serta komitmen untuk melanjutkan tradisi kaderisasi yang berpihak pada nilai keadilan, kemanusiaan, keberpihakan, dan terutama keindonesiaan secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!