Ujung Penantian di Tapandullu: Ketika Insentif Kader Lolos dari Lubang Jarum

Misba saat menerima intensif dari kepala desa Tapandullu, Rahmat, realisasi ini adalah pencairan Dana Desa (DD) Tapandullu Tahap II. Dok. Analysis.id).

ANALYSIS.ID, Mamuju – Di sebuah sudut Kantor Desa Tapandullu, Dusun Babalalang, Misbah tak mampu menyembunyikan gurat haru di wajahnya.

Perempuan yang akrab disapa I’ba ini berkali-kali merapikan amplop putih yang berisi rupiah di tangannya. Bagi banyak orang, mungkin itu sekadar angka, namun bagi I’ba, itu adalah buah dari kesabaran melewati ketidakpastian selama enam bulan terakhir.

I’ba adalah satu dari sekian banyak Kader Posyandu Bunga Teratai Desa Tapandullu yang menggantungkan harap pada Dana Desa (DD).

Sejak Juni lalu, kabar burung mengenai “gagal salur” anggaran menghantui hari-harinya. Syarat realisasi 60 persen dari pencairan tahap kedua yang belum terpenuhi kala itu sempat membuat asa para kader layu.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali. Penyaluran insentif kader hari ini akhirnya terpenuhi,” ujar I’ba dengan suara bergetar, Senin (29/12/2025).

Mendobrak Kebuntuan Anggaran

Drama tertundanya hak para kader ini berakhir hari ini. Bertempat di kantor desa, prosesi penyerahan insentif dilakukan secara langsung. Tak tanggung-tanggung, hak mereka dibayarkan penuh selama enam bulan, terhitung sejak Juni hingga Desember.

Kehadiran Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Mamuju, Muhammad Fausan Basir, di lokasi seolah menjadi penanda bahwa kebuntuan birokrasi telah pecah. Didampingi Pendamping Desa Kecamatan Simboro, Andi Lasinrang, serta Kepala Desa Tapandullu, Rahmat, serta Ketua BPD Tapandullu, Haris, penyerahan ini menjadi momen rekonsiliasi antara kewajiban pemerintah dan hak pekerja sosial di garda terdepan kesehatan.

Fausan dan timnya tampak berupaya keras memastikan bahwa kendala realisasi tahap dua yang sempat mengganjal tidak menjadi penghalang permanen bagi kesejahteraan warga desa.

Harapan di Balik Tugas Mulia

Bagi I’ba, menjadi kader posyandu bukan sekadar kerja sukarela. Di tengah keterbatasan ekonomi, insentif tersebut adalah tumpuan utama dapur rumah tangganya.

“Saya berharap kedepannya nilai insentif ini bisa ditambah. Mengingat penghasilan utama kami selama ini hanya mengandalkan pekerjaan ini,” harapnya menutup pembicaraan.

Kisah I’ba adalah potret kecil dari perjuangan kader kesehatan di pelosok Mamuju. Di balik angka-angka realisasi anggaran yang kerap jadi perdebatan di meja rapat, ada keringat dan harapan warga yang menunggu untuk ditunaikan. Hari ini, di Tapandullu, harapan itu akhirnya cair.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!