Kisah Anto dan Kebangkitan Nilam Mamuju: Secercah Harapan di Tengah Keterbatasan
ANALYSIS.CO.ID, Mamuju – Angin segar berembus di lahan-lahan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Sejumlah petani nilam di kabupaten ini mulai merasakan manisnya kebangkitan ekonomi seiring dengan permintaan pasar yang terus meningkat terhadap minyak atsiri berkualitas tinggi yang mereka hasilkan.
Setelah sempat meredup, budi daya nilam kembali menemukan popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir, menjanjikan stabilitas harga dan potensi ekspor yang menggiurkan.
Bagi sebagian petani di Mamuju, khususnya di lingkungan Padang Baka, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, tanaman nilam kini menjelma menjadi penopang utama perekonomian keluarga.
Anto, salah seorang petani yang telah dua tahun belakangan ini setia menanam nilam, merasakan betul dampaknya.
Ditemui di tengah hijaunya lahan nilam miliknya pada Minggu (20/4/2025) kemarin, Anto mengungkapkan optimismenya terhadap komoditas ini.
“Kalau perawatannya baik, insyaallah hasilnya cukup lumayan. Sekali panen bisa dapat satu sampai dua juta rupiah,” tuturnya dengan nada penuh harap. Senin (21/04/2025).
Jenis nilam Aceh yang ditanam Anto terbukti cocok dengan kondisi tanah di Padang Baka. Di atas lahan seluas satu hektare, ia mampu memanen nilam setiap enam bulan sekali dan menyulingnya menjadi minyak atsiri.
Proses penyulingan yang masih menggunakan metode tradisional dengan bahan bakar kayu tak mengurangi kualitas minyak yang dihasilkan.
Kisah Anto adalah cerminan perubahan tren di Padang Baka, di mana sejumlah petani mulai beralih dari tanaman pangan ke nilam yang dinilai lebih menguntungkan.
Namun, Anto mengakui bahwa keterbatasan modal masih menjadi kendala bagi sebagian petani lain untuk mengikuti jejaknya.
Sebelum menggantungkan hidup pada harumnya nilam, Anto ternyata memiliki kisah pilu sebagai seorang tenaga honorer di Rumah Sakit Umum Kabupaten Mamuju.
Belasan tahun ia mengabdi, berpindah-pindah tugas dari cleaning service hingga evakuasi ambulans, sebelum akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Saya dulunya seorang tenaga honorer di RS Umum kabupaten Mamuju, Saya sudah mengabdi 13 tahun lamanya sebagai tenaga honorer dan sudah berpindah-pindah tugas mulai menjadi Cleaning Service, Bagian pelayanan sampai Evakuasi Ambulance dan akhirnya TerPHK,” kenangnya.
Dalam mengembangkan budi daya nilamnya, Anto mendapatkan bibit dari petani lain di Dusun Salupalli.
Pengetahuan tentang perawatan nilam pun ia serap dari sesama petani di Padang Baka. Kini, ia berharap adanya uluran tangan pemerintah daerah berupa pendampingan dan penyuluhan intensif agar hasil panennya semakin meningkat.
Tak hanya itu, kestabilan dan kenaikan harga jual minyak nilam menjadi dambaan utamanya.
“Saya pertama kali membeli bibit nilam di teman saya di daerah Salupalli pada saat itu saya membeli bibit nilam dengan harga 400 ribu sebanyak satu ribu pohon. Selama ini saya merawat nilam belajar dari teman dan tidak pernah mendapatkan sosialisasi tentang proses penanaman nilam. Selain itu, harga minyak nilam berubah-ubah, dari mulai dua juta dua ratus turun sampai delapan ratus ribu, tapi sekarang harga minyak nilam sebesar satu juta dua ratus. Harapan saya agar harga minyak nilam kembali ke harga tertingginya,” urainya.
Kisah para petani nilam di Mamuju menjadi bukti bahwa sektor pertanian, dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan yang memadai, tetap memiliki potensi besar.
Dengan sentuhan kebijakan pemerintah dan strategi pemasaran yang efektif, nilam berpeluang menjadi komoditas unggulan daerah yang mampu mengangkat derajat ekonomi petani lokal Sulbar.

Tinggalkan Balasan